Tuesday, 7 February 2017

Adia Tidak Patah Semanagat - Nusantara Bertutur

Adia sedang bingung.  Sebelum bel pulang berbunyi tadi, Ibu Dina wali kelasnya mengumumkan tentang biaya buku dan karyawisata semester depan.  Jumlahnya tidak sedikit dan dalam beberapa waktu terakhir, Adia sering mendengar Ibu dan Ayah berbicara tentang kesulitan mereka membayar tagihan. 
“Ayo, Adia, makan dulu!” kata Ibu ketika Adia baru saja memasuki pekarangan rumahnya.  “Kalau sudah selesai dibereskan sendiri ya Nak piring dan mejanya.  Ibu harus ke pasar, ada pesanan kue lapis legit dari Tante Fifi.”
Pesanan kue? Ibu tidak pernah menjual masakannya sebelumnya.  Ibu hanya memasak untuk keluarganya, walaupun rasa masakan Ibu tidak kalah dari masakan restoran dan toko kue.
**
Ayah dan Ibu sedang menonton TV. Diam-diam, Adia melirik kearah Ayah dan Ibu.  Ruang tv yang biasanya ramai dengan obrolan mereka, akhir-akhir ini lebih sepi. Adia memberanikan diri bertanya.
“Ibu, tadi kata Ibu Dina, bulan depan kita sudah harus membayar uang buku dan uang karya wisata untuk tahun ajaran baru.” Ungkap Adia dengan nada ragu.
“Lho, tapi kan tahun ajaran baru baru akan dimulai dua bulan lagi? Kenapa bulan depan sudah harus dibayar ya?” tanya Ibu.
Padahal setiap tahun, memang begitu cara pembayara buku di sekolah Adia.  Mungkin Ibu lupa. 

**
            Kemarin di Sekolah, Adia mendengar cerita tentang kakak kelasnya yang berhasil memenangkan lomba menulis dan mendapat hadiah jutaan rupiah.  Adia mendapat ide untuk mencoba membuat kue untuk di jual dengan sedikit modal dari tabungannya. 
“Bau apa ini?” suara Ibu terdengar panik ketika memasuki rumah dan mencium bau gosong.
“Sedang apa di dapur, Nak?” tanya Ibu heran melihat badan dan baju Adia yang berlumuran tepung terigu dan gula.
“Bukan apa-apa, Bu.” Adia tidak mau bercerita pada Ibu bahwa Ia berusaha membuat kue balok coklat untuk dijual.  Adia sedih.  Boro-boro untuk dijual, untuk dimakan sendiri saja kue buatannya keras dan tidak enak.
**
Suara sekumpulan ibu-ibu teman Ibu Warih terdengar keras sampai ke kamar Warih.  Adia dan Warih pun gagal belajar bersama.  Ternyata Ibu-ibu itu sedang belajar membuat tas dari kain batik dan sulam. Adia dan Warih dipersilahkan ikut mencoba.

             “Wah kombinasi batik hijau dan kuning ini ternyata cocok ya dengan renda biru itu. Malah jadi unik warnanya!” Bu Shinta memuji Adia sambil mengamati tas hasil karyanya.  “Modelnya pun pas untuk semua umur!” lanjut Bu Shinta sambil tersenyum. Semangat Adia kembali berkobar. 

 Dengan sedikit sisa uangnya, Adia membeli kain batik dan perlengkapan membuat tas.  Ibu Warih dengan senang hati membantu menawarkan tas buatan Warih pada teman-temannya.  Dalam waktu satu minggu, pesanan tas buatan Adia sudah bertambah.  Ternyata, banyak jalan menuju Roma, asalkan kita tetap berusaha.  Ibu pun merelakan Adia mencoba membuat dan menjual tas asalkan pelajarannya tidak tertinggal.

Moral Cerita : Jangan putus asa ketika gagal dalam sesuatu hal.  Terus mencoba lagi untuk mendapat jalan terbaik untuk kita. 

No comments:

Post a Comment