Thursday, 26 January 2017

Oleh-Oleh dari Instanbul - majalah Bobo


Istanbul. Nama kotanya. Turki, nama negaranya. Delia baru tahu bahwa ternyata Turki itu terletak di kedua Benua, Eropa dan Asia. Dipisahkan oleh selat Bosphorus.
            Sudah dua hari Delia berada di Istanbul. Kebetulan ayah ada rezeki mengajak ibu dan Delia ke Istanbul tahun ini.
            Delia senang sekali! Ini liburan pertamanya ke luar negeri. Hari pertama saja dia sudah berdiri mematung dan terkesima melihat Masjid Biru yang indah. Dia juga tak berhenti berdecak kagum melihat Hagia Sophia, museum yang pada awalnya masjid itu.
            Hari ini, Delia diajak ayah dan ibu ke Grand Bazaar, pusat perbelanjaan terbesar di Istanbul.
            "Ibu mau belanja di sana, ya?"
            "Iya, Ibu mau beli oleh-oleh, " ujar ayah.
            Kata ayah lagi, ada 5000 kios yang berjualan aneka barang di Grand Bazaar. Wuaa.. Delia penasaran apa saja yang dijual di sana. Tapi.. Beli oleh-oleh? Hmm.. Sepertinya Delia tidak tertarik untuk membeli oleh-oleh. Tidak ada yang perlu aku bawakan oleh-oleh, gumamnya.
            "Ibu, itu pasti Grand Bazaar!" pekik Delia kepada ibu saat mereka berhenti di halte kereta dalam kota.
            Dari luar Grand Bazaar tidak tampak besar, namun terlihat sangat ramai pengunjung lokal dan turis.
            Delia melihat ke kanan dan ke kiri. Selalu ada pashmina dan aksesoris yang dipajang di tiap kios.
            "Delia jangan pisah dari Ibu, ya, " pesan ibu saat masuk.
            Delia langsung merapatkan dirinya pada ibu.
            Delia menemani ibu memilih pashmina khas Turki. Di sini, pembeli boleh menawar harga barang. Wuaa.. Ibu sampai bingung, semuanya bagus-bagus! Ibu juga membeli taplak meja rajutan.
            Saking banyaknya turis setiap hari di sini, penjualnya saja sampai bisa berbahasa Indonesia! Mereka menyapa, "Halo, apa kabar" kepada orang-orang Indonesia. Bahkan Delia diajak ngomong kata-kata yang mereka tahu, "Halo, apa kabar? Aku gila."
            Delia, ayah, dan ibu sampai terbahak-bahak mendengarnya.
            Puas membeli pashmina dan pernak-pernik, ayah mengajak Delia dan ibu ke sebuah kios. Delia membaca tulisan 'Baklava Turkish Delight' di kaca jendela kios tersebut.
            "Ayah, baklava itu apa?" tanya Delia.
            Ayah bilang, Baklava adalah sejenis makanan ringan khas Turki. Makanannya terdiri dari kacang pistacio atau walnut yang dicincang dan diberi pemanis gula atau madu lalu dibungkus adonan roti.
            Di dalam toko, banyak sekali kue dan manisan berwarna-warni. Delia penasaran sekali dengan rasanya. Di toko itu, Delia bebas mencoba setiap jenis baklava. Delia senang bukan main. Rasanya enak semua!
            "Kok beli baklavanya sedikit, Bu?" tanya Delia.
            "Baklava hanya tahan selama 7 hari. Jadi buat oleh-oleh Ibu mau beli lokum saja yang lebih tahan lama."
            Lagi-lagi Delia penasaran lokum itu apa. Ternyata lokum itu manisan Turki yang terbuat dari bahan dasar gel pati dan ditaburi bubuk gula agar tidak lengket.
            Lokum disajikan dalam potongan kecil-kecil berbentuk kubus atau bundar. Bisa dimakan sekali telan. Warna dan rasanya bermacam-macam. Biasanya juga ditambah potongan kurma, kacang-kacangan, dan bahan perasa seperti lemon, kayu manis, mawar, dan lain-lain.
            Delia, ibu, dan ayah mencoba tiap rasa lokum. Hmm.. Lezatnya!
            "Delia tidak mau pililh lokum untuk dibawa pulang?" tanya ibu.
            Delia terdiam. Sebenarnya dia tidak berminat untuk membeli oleh-oleh. Tapi, dia teringat kedua sahabatnya.
            "Buat Maya dan Yuri aja deh, Bu! Cuma mereka yang pernah bawa oleh-oleh buat Delia dari Padang dan Makassar!"
            Ibu tersenyum.
            "Cuma Maya dan Yuri?"
            "Iya, teman-teman Delia yang lain nggak pernah bawakan Delia oleh-oleh, Bu."
            "Berbuat baik itu kepada siapa saja, Delia. Tidak harus kepada yang sudah memberi kamu. Nanti kamu juga akan dapat balasannya. Kamu ingat Maya dan Yuri karena dulunya mereka juga mengingat kamu, kan?"
            Tiba-tiba Delia tersadar. Ibu benar. Delia mau memberi Maya dan Yuri karena dia ingat kebaikan kedua sahabatnya itu. Kalau aku mengingat teman-teman yang lain, mereka akan senang. Suatu hari aku akan mendapatkan balasannya, gumamnya.
            Delia mengambil wadah yang disediakan di kios. Diambilnya banyak lokum warna-warni.
            "Untuk siapa saja, Delia?" tanya ayah.
            "Untuk teman-teman sekelas Delia, Ayah!"
            Ibu tersenyum lagi.
            Delia lalu membeli berbagai gantungan kunci bergambar Hagia Sophia. Dipilihnya yang bagus-bagus. Dia ingin memberi teman-temannya oleh-oleh dari Istanbul.
            "Sudah jam 1, kita makan kebab, yuk!" ajak ayah.
            "Ayoo.. Delia lapar, Ayah!" Delia mengelus perutnya.
            Ayah dan ibu tertawa. Ayah lalu memilih satu restoran. Udara musim panas membuat mereka ingin duduk di luar restoran sambil memandangi kota Istanbul.
            Delia tersenyum. Dia sudah tak sabar ingin memberikan oleh-oleh kepada semua temannya. Ternyata, baru akan menyenangkan orang lain saja hatinya sudah merasa sangat senang!

***

No comments:

Post a Comment