Wednesday, 10 August 2016

Gara-gara Bersin - majalah Bobo


“Matahari bersinar terang, la...la...la...” Mimi bernyanyi dengan riang sambil berjalan mengitari taman bermain. Tiba-tiba ia berhenti. “Cantik sekali,” gumam Mimi. Ia menatap seekor kupu-kupu berwarna merah dengan bintik hitam. Kupu-kupu itu hinggap di atas bunga. Mimi mendekat. Tangannya siap mengapai, tetapi hampir saja ia sampai. “Hatsyi…hatsyi..” Mimi bersin membuat kupu-kupu terbang menjauh. Mimi berlari. Ia mengejar kupu-kupu itu. “Aduh..” Mimi tersandung akar pohon. Lututnya berdarah. Roknya kotor terkena tanah. Rasa perih di lututnya membuat Mimi pulang. Bunda terkejut melihat Mimi. Bunda mengandeng Mimi untuk duduk. Lalu Bunda mengambil kotak obat di dapur. “Mimi kenapa?” tanya Bunda sambil membersihkan luka dan mengolesi obat. “Gara-gara bersin,” ucap Mimi mengeryit kesakitan. “padahal aku tidak pilek ya Bun?” tanya Mimi. “Ooh jadi Mimi jatuh karena bersin,” ucap Bunda. “Bukan Bun. Gara-gara bersin kupu-kupu terbang. Aku kejar terus jatuh,” jawab Mimi. Ia meniupi lututnya yang telah diolesi obat. “Berarti lain kali Mimi mainnya harus hati-hati ya,” ucap Bunda. Mimi mengangguk setuju.
Setelah selesai diobati, Mimi mengucapkan terima kasih kepada Bunda. Ia berjalan masuk ke kamarnya. Lalu menganti bajunya yang kotor. Mimi termenung menatap tumpukan baju di lemarinya. Ia tidak bisa lupa dengan kecantikan kupu-kupu tadi. Seandainya tadi Mimi tidak bersin, saat ini ia pasti sudah membawa pulang kupu-kupu itu. Mimi yakin Bunda juga pasti menyukainya.
Esok harinya Mimi kembali ke taman bermain. “Semoga masih ada,” gumam Mimi. Setelah jalan berkeliling dua putaran, Mimi tetap tidak menemukan kupu-kupu itu. Ia malah melihat bunga matahari yang besar. Mimi mendekat, “Hatsyi..hatsyi..” lagi-lagi Mimi bersin. “Aneh,” gumam Mimi. Ia kembali ke rumah sambil menutup hidungnya. “Hatsyi..” kali ini bersin Mimi tidak juga mau berhenti. Ooh tidak, belum juga Mimi sampai rumah. Hujan turun dengan derasnya. Mimi mencari tempat untuk berteduh. Ia melihat sebuah warung tua.
Di sana ada juga yang ikut berteduh. Ada seorang bapak yang berjualan balon udara. Bagus sekali, balonnya berwarna-warni. Ada juga seorang ibu yang membawa kantong belajaan dan beberapa kakak berbaju putih abu-abu.
Hari semakin sore. Hujan tidak juga mau berhenti. Mimi mulai khawatir. Ia yakin Bunda pasti sedang menunggunya pulang. Atau jangan-jangan Bunda sedang menyusulnya. Mimi berjalan keluar. Ia menengadah ke langit. “Ayolah hujan berhenti,” gumam Mimi. “Mau pinjam payung?” tanya ibu pemilik warung. Mata Mimi berbinar. Dengan cepat ia mengangguk. Ah seharusnya sejak tadi ia meminjam payung. Mimi berjalan pulang sambil bernyanyi. “Tik..tik..tik bunyi hujan di atas genteng. Airnya turun tidak terkira. cobalah tengok dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua.” Saat melewati sebuah gang, Mimi melihat beberapa anak sedang bermain air. Mimi berhenti. Ia menyaksikan permainan mereka. Berlari, berkejaran dan saling melempar air dari ember sambil tertawa-tawa. Sungguh mengasikkan. Mimi ingin ikut bermain, tetapi ia ingat Bunda. Mimi mengurungkan niatnya. Ia harus segera sampai di rumah.
“Bunda aku pulang,” teriak Mimi. Ia meletakkan payung di teras. “Lihat Bunda, apa yang aku bawa,” ucap Mimi lagi. Tetapi tidak ada jawaban. Mimi masuk ke dalam rumah. “Bun..Bunda,” panggil Mimi. Ia menelusuri ruang tamu, dapur, dan kamar. Tetapi Bunda tidak ada. Kini Mimi yakin Bunda menyusulnya ke taman bermain. Tidak lama kemudian Bunda pulang. Mimi melihat Bunda membawa dua payung. Mimi mengandeng tangan Bunda. Ia meminta maaf sudah membuat Bunda khawatir. Seharusnya ia tidak ke taman bermain lagi hari ini. Memang ini semua gara-gara bersin. Eh Mimi terkejut, sepertinya sejak tadi ia tidak bersin.
Mimi lalu menceritakan semua kejadian. Ayah dan Bunda mendengarkan dengan seksama. Sesekali Ayah tersenyum, sedangkan Bunda sedikit cemberut karena sempat kebingungan tidak bisa menemukan Mimi. “Jadi menurut Mimi ini semua gara-gara bersin?” tanya Ayah. Mimi mengangguk. “Mimi tahu kenapa bisa bersin?” tanya Ayah. “Tidak,” jawab Mimi sambil menggeleng. “Ha..ha..ha..” Ayah tertawa lebar. Mimi terkejut, kok Ayah bisa tertawa. Padahal Mimi sedang kebingungan. “Mimi lupa ya? Mimi kan alergi serbuk sari. Ingat tidak, tahun lalu kita tamasya ke taman bunga. Mimi terus saja bersin, tidak berhenti. Kita semua panik, lalu buru-buru pulang. Setelah diperiksa Mimi ternyata alergi serbuk sari,” ucap Ayah menjelaskan. “Oooh..” bibir Mimi membulat. Ia mulai mengingat. Pantas Mimi hanya bersin saat dekat dengan bunga. Berarti dugaannya benar. Ia tidak sedang pilek. Tiba-tiba Mimi tersenyum. “Horee.. berarti besok Mimi boleh main air,” ucap Mimi melompat riang. Ia berlari sambil berputar-putar mengitari ruang tamu. Ayah dan Bunda tertawa melihat Mimi. ***

No comments:

Post a Comment