Wednesday, 23 March 2016

Paman Beo Ingin Bernyanyi - majalah Bobo Maret 2016

Di sebuah taman burung yang luas, Paman Beo memperhatikan burung-burung tetangganya yang sedang bernyanyi. Oh jadi begitu caranya, pikir Paman Beo. Paman Beo menegakkan posisi badannya, mengambil nafas dalam-dalam.. dan…“Koaak… koaak…”
“Ah… tidak bisa lagi!” guman Paman Beo. Ia pun kembali murung.
            Belakangan ini Paman Beo terlihat rajin berlatih beryanyi. Dia merasa iri, karena hanya dia sendirilah di antara tetangganya yang tidak bisa bernyanyi. Bibi Murai bernyanyi indah sekali. Begitupun Ibu Kutilang, lengkingannya sangat merdu didengar. Ah, hampir semua burung disini bernyanyi merdu.
            Setelah mencoba berkali-kali dan gagal lagi, Paman Beo tidak kehilangan akal. Ia berangkat menemui Mbah Kenari, guru dari burung yang belajar berkicau. “Ayo semangat! Aku pasti bisa kalau belajar dari Mbah Kenari,” kata Paman Beo menyemangati dirinya.
            Mbah Kenari menerima semua burung yang ingin belajar kepadanya, termasuk Paman Beo. Di rumahnya, Paman Beo melihat banyak anak-anak burung sedang belajar bernyanyi. Tapi itu tidak menyurutkan semangat Paman Beo. Saat Paman Beo mengeluarkan suaranya untuk bernyanyi mengikuti arahan Mbah Kenari, yang terdengar adalah suara, “Koaak… koaak…” Anak-anak burung semua tertawa. Tapi Paman Beo tidak mau menyerah, ia terus saja berlatih. Setiap suara yang keluar dari paruh Paman Beo, selalu diikuti tawa anak-anak burung murid mbah Kenari.
            Sampai akhirnya Paman Beo menjadi kesal. Dia mulai bercerita, “Hei kalian anak-anak burung, coba dengarkan cerita Paman. Dulu sewaktu muda, Paman adalah burung yang paling pintar bernyanyi. Saking merdunya nyanyian Paman, sampai dipanggil oleh Raja dan Ratu Merak untuk menghibur mereka. Setelah itu Paman berkelana dan bertemu dengan Raja Gagak. Rupanya Raja Gagak kagum dan iri mendengar suara Paman. Dicurilah suara merdu Paman oleh Raja Gagak dan sampai sekarang Paman tidak bisa bernyanyi lagi.”
            “Wah… cerita Paman hebat!” seru anak-anak burung.
            “Tapi… semua itu hanya khayalan Paman,” lanjut Paman Beo dengan lesu.
            “Aku suka dongeng Paman, besok Paman Beo mendongeng lagi ya untuk kita,” celetuk Ilang, anak Kutilang. Paman Beo mengangguk gembira.
            Esok hari dan hari-hari berikutnya Paman Beo selalu datang ke rumah Mbah Kenari untuk mendongeng. Akhirnya Paman Beo pun bahagia dikenal sebagai pendongeng yang hebat.
-o0o-



No comments:

Post a Comment