Sunday, 7 February 2016

Bibi Es Krim - Majalah Bobo

Aku dan Nina senang sekali. Kami baru saja memasukkan dua lembar uang lima ribuan ke celengan. Tante Cantik memang baik. Selalu memberi uang ketika berkunjung ke rumah. “Wah, anak-anak Ibu rupanya lagi senang, ya?” tanya Ibu. “Kalau Tante Cantik datang, celengan kami jadi gendut, Bu,” kataku girang. Nina pun tertawa lebar sambil mengocok celengannya. ** Sudah lama rasanya tak bertemu dengan Tante Cantik. Kata Ibu, Tante Cantik sakit, jadi tak bisa sering-sering lagi datang ke rumah kami. “Ayu... tolong bantu Ibu membersihkan kamar tamu, ya? Nanti sore ada tamu spesial yang datang,” jawab Ibu. “Asyiiik... Tante Cantik mau datang lagi,” seruku pada Nina. Nina ikut-ikutan girang. Ibu hanya tersenyum. “Yang bersih dan rapi, ya,” pesan Ibu meninggalkan kami menuju dapur. Pasti Ibu mau membuat roti bolu pandan kesukaan Tante Cantik. Setelah kamar tamu sudah siap dibersihkan, aku dan Nina ke dapur. Ingin membantu Ibu membuat roti bolu pandan. “Ayu... tolong petikkan tiga helai daun jeruk, ya,” kata Ibu. “Siap Bu. Dengan senang hati,” seruku. Dengan semangat aku menuju kebun kecil kami yang ada di halaman rumah. Ah, rasanya sudah tak sabar menunggu kedatangan Tante Cantik. Tapi, buat apa daun jeruk ya? Memangnya ada kue bolu rasa daun jeruk? “Daun jeruknya untuk apa sih, Bu?” tanyaku sambil mengulurkan daun-daunan yang biasanya untuk memasak itu. “Untuk masak rawon, buat menyambut tamu kita,” jawab Ibu. Wah... ternyata Ibu mau membuat masakan berkuah hitam kesukaanku dan Nina. “Rawon? Tante Cantik kan tak suka rawon?” tanya Nina. Nina benar. Oh... tidak, jangan-jangan bukan Tante Cantik yang akan datang. Tapi... ** Tamu kami sudah datang dari kemarin. Orangnya cerewet sekali. Kami nggak boleh nonton TV lama-lama, apalagi main game. Tidur nggak boleh malam-malam, dan saat pagi tak boleh malas-malasan meski tidak sekolah. Saat sang tamu berbincang dengan Ibu di ruang depan, aku dan Nina segera berlari ke dapur. Aku mengambil cobek dan ulekan. “Untuk apa, Kak?” tanya Nina. “Aku pernah dengar dari temanku, katanya cara ini ampuh untuk mengusir tamu. Percaya nggak percaya sih. Tapi ah biarlah, siapa tahu manjur,” jawabku. Dengan semangat aku mengulek cobek kosong. Kemudian aku meminta Nina untuk mengintip ke ruang tamu. Nina menggelengkan kepala. Itu artinya tak ada tanda-tanda bahwa Bibi Cerewet akan pamit pulang. Aku pun ikut mengintip. Dan benar saja, ternyata Ibu dan Bibi Cerewet masih saja asyik berbincang-bincang. Lalu aku kembali mengulek cobek kosong lagi. Semakin ingat omelan Bibi Cerewet, semakin semangat pula aku mengulek. “Sedang apa, Ayu? Berisik sekali suaranya.” “Lagi ngulek cobek kosong, Bu. Biar Bibi Cerewet segera pulang,” kataku. “Sst.. sst...,” Nina menarik-narik rokku, sepertinya ingin menyuruhku diam. Tapi aku tak peduli. “Ayu nggak mau diomelin Bibi Cerewet lagi, Bu. Enakan Tante Cantik yang datang,” kataku nyerocos masih ngulek cobek kosong. Terdengar tawa berderai di belakangku. Aku menoleh cepat. Ternyata ada Bibi Cerewet bersama Ibu. Duh, malunya aku. “Itu tidak benar, Yu. Kata siapa ngulek cobek bisa ngusir Bibi?” Ibu tertawa. Bibi tersenyum mendekati kami. “Bibi itu sayang kalian. Kenapa sih Bibi meminta kalian agar tidak malas bergerak? Sebab bisa bahaya lho, tulang kalian bisa keropos seperti Tante Cantik,” kata Bibi Cerewet. “Tulang Tante Cantik keropos?” tanyaku. “Iya, namanya osteoporosis,” jawab Bibi Cerewet. ** Hari ini Bibi mengajakku dan Nina jalan-jalan pagi. Kata Bibi, jalan kaki membuat sehat. “Ayo ayunkan tangan kalian,” seru Bibi Cerewet. Kami menirukan gaya Bibi, agar tak dicereweti lagi. Kami terus berjalan sampai akhirnya berhenti di lapangan. Ada banyak orang dan anak-anak di sana. Lalu Bibi mengajak kami senam seperti yang lainnya. Awalnya aku enggan, tapi ternyata asyik juga menggerak-gerakan kepala dan badan. Seperti menoleh ke kanan dan ke kiri, mengayunkan tangan, dan melompat. “Senam membuat badan kita sehat,” kata Bibi semangat. Aku dan Nina ikut semangat. Sampai tak terasa lagu yang mengiringi senam habis. Badanku berkeringat dan lelah sekali. Tak lama kemudian Bibi datang. Bibi membawa eskrim dan menyodorkannya kepadaku. “Ayo dimakan eskrimnya, nanti keburu meleleh. Biar Bibi kalian yang cerewet ini senang,” kata Bibi tersenyum. Mukaku memerah, malu sekali. Sejak saat itu aku dan Nina tak lagi memanggil Bibi kami dengan sebutan Bibi Cerewet. Kami memanggilnya dengan sebutan Bibi Eskrim. Karena tiap liburan, Bibi datang mengajak kami jalan dan senam lalu membeli eskrim.

No comments:

Post a Comment