Saturday, 9 January 2016

Arti Natal - Nusantara Bertutur

“Bu, kapan kita membeli baju baru untuk Misa Natal besok?” tanya Kinar pada Ibu yang sedang mengiris daun bawang.
            Ibu menghela napas. “Natal kali ini, Kinar tidak membeli baju baru dulu, ya. Ibu sama Bapak baru saja melunasi biaya studi wisata kamu dan kakakmu. Baju Kinar juga banyak dan masih bagus-bagus, kan?”
            “Tapi, Bu, teman-teman Kinar  pasti memakai baju baru. Kinar malu, nanti Kinar sendirian yang pakai baju lama,” rajuk Kinar.
            “Lho, memangnya kalau Misa nanti, kalian akan berisik meributkan baju baru bukannya khusyuk berdoa?” tanya Ibu.
            “Ah, Ibu kuno!” Kinar meninggalkan Ibu lalu pergi bermain.
**
            Kinar sudah membayangkan sebuah gaun  cantik berwarna merah. Bila dipakai sambil berputar, roknya akan megar seperti gaun puteri kerajaan. Tapi, Ibu malah tidak mau membelikannya. Kalau tidak memakai baju baru bukan Natalan namanya, pikir Kinar.
            Dari jauh, Kinar melihat Sasa teman sekelasnya. Sepertinya dia membawa banyak sekali kertas kado. Tapi buat apa?
            “Sasa, main yuk!” Kinar melambaikan tangannya pada Sasa.
            Sasa pun menghampiri Kinar, “Maaf, Kinar. Hari ini aku ada tugas penting, jadi tidak bisa bermain dulu. Atau kamu mau membantu aku?” ajak Sasa.
            “Membantu apa?” tanya Kinar penasaran.                                             
            “Nanti kamu juga akan tahu, yuk!” Sasa segera mengamit tangan Kinar.
**
            Di ruang tamu Sasa berserakan berbagai macam peralatan sekolah, beberapa kotak makan dan tempat minum.
            “Tolong bantu aku membungkus kado, ya,” pinta Sasa.
            “Untuk siapa kado sebanyak ini, Sa?” tanya Kinar.
            “Tiap Hari Natal, aku menyumbang kado ke Panti Asuhan. Ini hasil dari tabunganku sendiri selama satu tahun, lho,” ujar Sasa bangga.
            Kinar mengambil sebuah kotak pensil lalu membungkusnya. “Kamu sudah beli baju baru buat Misa besok, Sa?” Kinar kembali teringat dengan masalahnya.
            Oh, aku nggak  beli baju baru. Kasihan Ayah dan Ibuku baru membayar biaya studi wisata yang tidak sedikit,” jawab Sasa.
            Memang  studi wisata ke Batu, Malang untuk 3 hari 2 malam, biayanya tidak sedikit, pikir Kinar. “Tapi kamu kan punya tabungan, Sa. Kenapa dihabiskan untuk membeli kado-kado ini? Padahal bisa untuk membeli baju baru.”
            Sasa tersenyum. “Bajuku masih banyak yang bagus kok. Ayahku juga pernah bilang bahwa arti Natal yang sesungguhnya adalah berbagi dengan sesama dan kebersamaan bukan sekadar baju baru. Aku masih bisa merayakan Natal bersama Ayah dan Ibu, sementara mereka anak-anak yatim piatu. Tapi bukan berarti nggak boleh memakai baju baru di hari Natal, lho.”
            Kinar jadi malu mendengarnya. Bukannya bersyukur masih bisa merayakan Natal bersama keluarganya, malah meributkan baju baru. Natal tanpa Ayah dan Ibu, pasti rasanya sepi sekali. 
            “Sa, aku boleh ikut ke panti asuhan nggak?” tanya Kinar.
            “Boleh dong!” jawab Sasa.
            “Natal tahun depan, aku juga menyumbang kado ya, Sa,” sahut Kinar lagi.
            Sasa mengangguk senang.

**

No comments:

Post a Comment