Saturday, 7 November 2015

Imbalan Kurcaci Piyu - majalah Bobo

Pagi ini, kurcaci Piyu tampak bersemangat mengangkat kantung berisi kentang hasil panenan kurcaci tua Pak Teto.
            “Berapa kantung kentang lagi yang harus aku angkat dari kebunmu Pak Teto?” tanya kurcaci Piyu.
            “Oh, sepertinya masih ada tiga kantung, Piyu. Bisakah kau angkat ketiga katung kentang itu ke rumahku?”
            “Tentu saja Pak Teto. Semua pasti beres,” jawab Piyu.
            “Oh… terimakasih Piyu. Kamu memang kurcaci yang rajin, kuat dan baik hati. Nanti ambilah setengah kantung kentang itu untuk makananmu seminggu ini,” Pak Teto berujar senang.
            “Terimakasih Pak Teto,” seru Piyu sambil menyelesaikan pekerjaannya.
            Di desa kurcaci, Piyu dikenal sebagai kurcaci kuat dan rajin. Setelah membantu Pak Teto, Piyu membantu Bu Jaru membawakan gulungan kain untuk dijahit menjadi baju-baju kurcaci. Bu Jaru sangat senang dibantu Piyu. Ia menghadiahi Piyu baju yang bagus.
            Satu hari Piyu duduk santai di teras rumahnya sambil menikmati kentang hasil pemberian Pak Teto. Tiba-tiba ia melihat Pak Toba datang tergesa-gesa ke arah rumahnya. Piyu pun segera mengambil pisau dan pura-pura sedang mengupasi kentang pemberian Pak Teto.
            “Piyu, tolong temani aku ke hutan. Aku harus mencari beberapa daun untuk ramuan obatku,kata Pak Toba.
            “Ah maaf Pak Toba, aku tidak bisa. Tadi siang Bu Cepo memintaku mengupas setengah karung kentng. Katanya untuk membuat pai kentang sore ini,” jawab Piyu, berbohong.
            “Aduh, bagaimana ya. Padahal hanya kamu yang tahu tempat daun itu tumbuh. Aku pikir kamu pasti bisa mengantarku seperti minggu lalu. Kalau aku harus ke hutan sendiri, aku pasti selalu berputar-putar dulu di dalam hutan yang membingungkan itu,” kata Pak Toba pasrah. “Tapi mau tak mau aku harus mencarinya, kasihan Pak Balu, sakitnya bisa bertambah parah.
            “Maafkan aku Pak Toba,” kata Piyu pelan.
Sebenarnya dalam hatinya Piyu merasa kasihan pada Pak Toba. Namun Pak Toba tidak pernah memberi imbalan setiap kali minta tolong. Piyu jadi agak kesal padanya.
Sejak minggu lalu Piyu memutuskan untuk menghindar jika disuruh Pak Toba. Termasuk berbohong seperti yang baru saja ia lakukan. Ah, biarlah. Aku sudah sering membantunya, tapi tak pernah sekalipun diberi imbalan, pikir Piyu. Ia hanya memandangi Pak Toba saat kurcaci tabib itu berjalan sendiri menuju hutan.
***
            “Ahh… kenapa perutku sakit sekali pagi ini?” tanya Piyu sambil mengingat-ingat. Ia terbangun pagi sekali karena perutnya sakit. Ah, sepertinya aku terlalu banyak makan kentang yang sudah terlanjur dikupas sambil berbohong pada Pak Toba kemarin,” pikir Piyu.
Padahal pagi ini Piyu sudah berjanji akan membantu Pak Bade. Pak Bade memintanya mengangkat ranting-ranting di pinggir hutan untuk dijadikan kursi. Sebagai upah, Pak Bade berjanji akan membuatkan sebuah kursi goyang untuk Piyu.
Tentu saja, dengan semangat Piyu bersedia membantunya. Namun sayang, perutnya kali ini sakit sekali. Untuk bergerak saja Piyu merasa kesakitan, apalagi untuk mengangkat ranting. Ah, sepertinya aku harus minta obat pada Pak Toba, pikir Piyu.
            Ia lalu memaksakan diri berjalan menuju rumah Pak Toba. “Pak Toba, bolehkah aku meminta ramuan obat penghilang rasa sakit perut?tanya Piyu sesampainya di rumah Pak Toba.
            “Hmm... coba aku periksa dulu sakit perutmu Piyu,” kata Pak Toba sambil mengetuk-ngetuk perut Piyu. Ah, daun yang aku ambil dari hutan kemarin bisa membuat sakit perutmu berkurang,” kata Pak Toba seraya memberi sebotol ramuan obat pada Piyu.
“Aku sempat berputar-putar lama di dalam hutan untuk menemukan daun ini. Hehehe... aku memang sudah mulai pikun,” tawa Pak Toba terkekeh.
Piyu segera meminum ramuan obat itu. Dan ajaib… perlahan sakit perut Piyu mulai berkurang.
            “Terimakasih Pak Toba, apa imbalan yang bisa kuberikan karena telah menolongku?” tanya Piyu. “Aku bisa mengantarmu ke hutan lagi, untuk mencari daun obat itu,” lanjutnya. Pak Toba tersenyum.
            “Tidak perlu Piyu, aku sudah membawa akar tanaman itu dari hutan dan kutanam di halaman rumah. Dan aku tidak perlu imbalan seperti yang kau katakan tadi. Bukankah di desa kurcaci ini kita saling tolong menolong,” ujar Pak Toba

            Piyu mengangguk. Dalam hati ia merasa malu telah membohongi Pak Toba. Mulai saat itu ia berjanji akan menolong siapapun juga tanpa mengharapkan imbalan.

No comments:

Post a Comment