Sunday, 18 October 2015

Gaco Engklek Rara - Solo Pos

Rara mengendap-endap memasuki pekarangan sebuah rumah. Matanya awas mengawasi sekitar.
Yes, dapat!
Rara menggenggam sesuatu di telapak tangannya. Lantas, ia mengambil sepeda yang disandarkan di bawah pohon dan melaju dengan kencang.
Sesampainya di rumah, benda itu Rara simpan dalam laci meja belajar. Ia tersenyum lebar.
"Aku pasti menang."
***
Dua hari yang lalu, Rara menerima tantangan Fani. Katanya, kalau ingin menang main engklek, Rara harus memakai gaco yang didapat dari rumah itu. Rumah tua yang sedang direnovasi.
Rumah itu terletak di persimpangan jalan. Setiap pergi dan pulang sekolah, Rara pasti melewatinya.
Kata Ayah, minggu depan rumah itu akan dihuni tetangga baru.
Rara setuju. Apa susahnya cuma mengambil gaco. Lagipula, tidak ada yang akan marah. Hanya saja kalau ketahuan memanjat pagar, ibu dan ayah pasti melarang.
***
Siang ini, Rara sudah berhasil mengambil gaco dari sana. Gaco itu berasal dari pecahan keramik yang ada di halaman rumah. Setelah shalat zuhur dan menyantap makan siang, Rara pamit pada Ibu. Hari ini ia sudah ada janji dengan Fani.
"Begitu azan asar, langsung pulang, ya, Ra," pesan Ibu saat Rara berpamitan.
"Kita mau silaturahmi ke rumah tetangga baru," ucap Ibu lagi.
Rara mengangguk. Ia sudah mengantongi gaco keberuntungan. Ia sungguh penasaran. Sudah hampir seminggu main engklek, tapi belum pernah menang. Gaconya selalu keluar atau menyentuh garis.
Rara sudah berada di halaman rumah Fani. Vika dan Sasha sudah menanti. Keempatnya berhompimpah. Vika jadi yang pertama jalan.
Yes! Vika bersorak.
Dia sudah dapat dua bintang. Lalu, berturut-turut, Sasha dan Fani.
"Gaco ini tidak berfungsi," keluh Rara sepulang bermain.
Ia hanya dapat satu bintang. Gaconya tidak ajaib. Walaupun sudah diambil dengan susah payah.
Rara melewati persimpangan. Ada truk besar di depan rumah tua itu. Beberapa penumpang turun.
Hei, ada seorang anak seusia Rara. Ia melempar senyum pada Rara. Rara  membalasnya sambil berlalu.
"Ra, mandi dan shalat asar, ya." Ibu menyambut Rara.
Setelah selesai, Rara menuju Ibu yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Kita mau bantu beres-beres." Ibu menyerahkan bungkusan bolu kukus.
Rara baru tahu ternyata tetangga baru itu adik angkat Ibu. Mereka membeli dan merenovasi rumah itu.
Sesampainya di sana, Ibu memperkenalkan Rara pada pemilik rumah, Tante Suri dan Om Tian. Rara menyerahkan bungkusan bolu kukus. Tante Suri menerimanya dengan senang.
Ibu sibuk membantu Tante Suri di dapur. Sementara itu, Rara berjalan ke sudut taman. Anak yang Rara jumpai tadi sedang berada di sana. Ia sedang mengatur bunga bersama Om Tian.
"Rara." 
Ia mengulurkan tangan dan mengajak anak itu berkenalan.
Anak itu tersenyum sambil menyebutkan namanya. Cindy.
Rara bercakap seru dengan Cindy. Tiba-tiba Rara teringat pada gaco engkleknya.
“Kamu percaya dengan benda ajaib?” tanya Rara.
“Percaya, dong!” Cindy tersenyum menatap Rara.
“Dulu Ayah menang terus waktu main bola kasti karena selalu pakai topi ajaib. Iya, kan, Yah?”
Om Tian mengusap peluhnya lalu menoleh.
“Cindy masih ingat cerita Ayah itu, ya,” ujarnya.
Om Tian mengajak Cindy dan Rara duduk di dipan.
“Om menang pertama kali setelah memakai topi. Om pikir bisa menang karena pakai topi itu. Jadi, Om sebut itu topi ajaib,” kenang Om Tian.
“Benarkah?” Rara menunggu ucapan Om Tian selanjutnya.
 “Suatu hari topi itu lupa diletakkan di mana. Om tetap main bola kasti. Ternyata, menang lagi,” lanjut Om Tian.
Benda ajaib itu benar-benar ada rupanya, pikir Rara.
Wajah Rara terlihat sangat serius.
Tiba-tiba Cindy dan Om Tian tertawa.
“Tidak benar kok, Ra. Om menang karena lincah mengelak. Karena sudah sering bermain, lama-lama Om tahu bagaimana caranya supaya bisa menang.”
Ooh. Rara manggut-manggut.
“Ternyata bukan karena topi ajaib, ya,” gumamnya pelan.
Sudah pukul setengah enam. Ibu mengajak Rara pulang.
Ketika berjalan mendekati pohon, Rara mengembalikan gaco yang ia ambil kemarin. Rara tidak perlu gaco ajaib. Ia hanya perlu latihan terus. Benar, kan? 

No comments:

Post a Comment