Monday, 24 August 2015

Sepatu Nadia - majalah Bobo


Warnanya hitam. Tingginya di atas mata kaki. Talinya juga hitam. Keren sekali di kaki Nadia. Apalagi jalannya Nadia itu anggun sekali. Persis model. Nadia memang cocok jadi model. Cantik, putih, langsing, rambutnya panjang hitam berkilau.
Aku iri sama Nadia. Sangat iri. Bukan, bukan karena Nadia cantik. 
Aku nggak iri sama kecantikan Nadia. Karena aku juga cantik. Kata ibu aku gadis paling cantik di dunia. Dan aku percaya sama ibu. Aku iri sama Nadia karena sepatunya. Aku ingin sepatu Nadia. Sepatunya keren sekali.
"Kamu yakin ingin sepatu seperti ini?" tanya ibu melihat bayangan kakiku yang sedang mencoba sepatu di cermin toko. Aku mengangguk. Ragu. Sebenarnya aku merasa ada yang aneh dengan sepatu itu. Entah apa. Tapi ini sepatu Nadia. Begitu aku menamakannya.
Hari ini aku dan ibu ada di toko sepatu. Setelah sebulan lalu aku bilang ke ibu ingin sepatu baru. Ketika itu ibu diam saja. Ibu beranjak ke kamarnya dan kembali dengan bungkusan plastik hitam. Diambilnya benda kecil warna warni dan digelarnya di meja makan. Aneka warna pin kupu-kupu yang suka disematkan ibu di gorden. Cantik sekali. Buatan tangan lembut ibu.
"Kenapa Rani ingin sepatu baru? Bulan kemarin baru beli sepatu, kan?" tanya ibu lembut.
"Itu kan sepatu buat olahraga, Bu. Ini sepatu buat sehari-hari ke sekolah bisa buat main juga, buat ganti biar tidak cepat rusak," jelasku gemetar. Aku cemas ibu akan menolak permintaanku. Oh aku sangat ingin sepatu Nadia itu.
"Baiklah, Ibu mengerti. Tapi sekarang ini uangnya belum cukup untuk membelinya. Maukah Rani menolong Ibu menjualkan pin-pin ini biar uangnya segera terkumpul dan sepatu impianmu segera terbeli." Ibu tersenyum menatapku. Aku melongo. Sayup kudengar ibu menerangkan berapa harga jual dari pin-pin itu. Pada siapa aku harus menjualnya. Bagaimana cara menjual yang menarik. Ah ibu, aku tak bisa jualan. Aku malu, bu.
Malam itu aku tak bisa tidur. Membayangkan esok hari aku jualan di sekolah. Bagaimana kalau tidak ada yang membeli? Teman-teman pasti menertawakanku. Hari pertama, pin kupu-kupu itu tetap berada di dalam tasku. Aku terlalu malu mengeluarkannya. Begitu juga hari kedua, ketiga, keempat....
Aku menggelengkan kepala lemah ketika ibu menanyakan apakah aku sudah berhasil menjual pin-pin itu. Ibu pun tersenyum sambil mengepalkan tangannya. Semangat! Begitu teriaknya seperti di drama-drama Korea. Aku cemberut. Ibu tertawa. Sambil memelukku ibu bilang kalau aku bisa membantunya menempelkan pin atau magnet di kupu-kupu yang telah dibuatnya, dan setiap satu kupu-kupu, ibu akan memberikan aku upah. Tentu saja aku mau. Tak susah toh menempel. Yang penting tak usah jualan.
"Wah cantik sekali kupu-kupunya. Ini yang buat ditempel di gorden kan? Ini punya kamu, Rani? Beli di mana atau kamu jualan ini?" berondong Bu Nilam, wali kelasku ketika tak sengaja plastik isi pin kupu-kupu itu jatuh dari tasku dan isinya tumpah.
"Iya Bu, itu Ibu saya yang bikin. Saya bantu Ibu jualin," kataku pelan sekaligus penuh harap.
Dan itulah awalnya. Tak hanya Bu Nilam yang membeli tapi juga guru-guru yang lain. Beberapa teman juga memesan untuk diberikan pada ibunya sebagai hadiah. Wuaa... aku berhasil menjual pin-pin itu dalam jumlah banyak. Ibu memelukku erat ketika aku mengabarkan kesuksesanku jualan. Ah sebenarnya setiap hari ibu selalu memelukku kok. Dan aku suka sekali karena bau ibu seperti bau bunga-bunga di taman. Terasa segar dan harum.
Aku bangga sekali pada ibu. Selama ini aku selalu menganggap remeh ibu dan pin kupu-kupunya. Aku pikir ibu hanya mengisi waktu luangnya. Aku tak pernah tertarik untuk membantu ibu membuatnya. Ternyata....
"Pin kupu-kupu Ibu itu sudah membantu Ayah membayar uang sekolahmu loh," seloroh ayah ketika aku mengungkapkan kekagumanku pada ibu. Dan kini pin kupu-kupu itu sudah membantuku mendapatkau sepatu Nadia.
Rasanya bangga sakali membeli sesuatu dari hasil kerja kita loh. Walau aku tahu ayah dan ibu menambah kekurangan uangnya karena laba jualanku belum mencukupi untuk membeli sepatu Nadia. Dan kini aku memakainya. Sepatu Nadia yang sangat kudambakan. Tapi....
"Ibu pikir sepatu ini lebih bagus daripada yang kamu pakai itu," kata ibu tersenyum. Sepatu Nadia! Tapi warnanya peach dengan bunga-bunga kecil. Cantik sekali. Mataku berbinar. Teman-temanku belum ada yang punya sepatu seperti itu. Bahkan Nadia pun. Kan, ibu memang selalu tahu apa yang terbaik untukku.
"Atau yang warna putih ini, bagus juga. Kalau memakai ini, Ibu jadi membayangkan kamu seperti kelinci yang melompat-lompat di taman. Ihh.. pasti lucu deh," saran ibu sambil mengedipkan matanya. Ibu jail. Menggodaku.

"Ibuuuuuuuuu!"

No comments:

Post a Comment