Saturday, 1 August 2015

Kalung untuk Zahra - Majalah Bobo


Alifia mengikuti langkah Bapak yang lebar menaiki tangga penyeberangan khusus pejalan kaki untuk naik ke kapal Ferry. Begitu sampai di atas kapal, Bapak segera masuk ke dalam kabin kapal yang luas, dengan bangku-bangku panjang untuk penumpang kapal bisa beristirahat dengan nyaman.
Bapak mencari tempat duduk di dekat televisi.  Selama dua jam lebih, kapal Ferry ini akan membawa Alifia dan Bapak meninggalkan pelabuhan Bakau Heni.
            “Aku di luar ya, pak. Menikmati angin laut,” pinta Alifia.
            Bapak mengangguk. “Jangan jauh-jauh dari pintu yang itu, ya,” tunjuk Bapak. “Biar Bapak mudah menemukanmu kalau kapal sudah sampai pelabuhan Merak.”
            Alifia mengangguk. Kemudian berjalan ke anjungan Kapal. Melihat ke bawah. Di sana, banyak anak lelaki seumurannya yang sedang berenang di sekitar kapal. Mengejar uang logam lima ratus dan seribu rupiah yang dilemparkan orang-orang dari atas kapal. Alif pun ikut melempar enam buah logam lima ratus rupiah.
            Ketika peluit berbunyi, anak-anak itu menyingkir. Kapal Ferry akan berangkat meninggalkan pelabuhan. Alifia sedikit kecewa karena tidak tahu kapan bisa melihat pemandangan seperti itu lagi.
“Baru sekali naik kapal Ferry ya?” seorang kakek berdiri di sebelah Alifia.
“Dua, Kek. Yang pertama waktu mau ke Lubuk Linggau,” jawab Alifia. “Di sini anginnya kencang, lebih baik Kakek  ke dalam saja. Ayo Kek, saya antar ke keluarga Kakek.”
            Kakek tadi menggeleng. Menatap sebuah foto di tangannya. “Di sini saja. cucu Kakek ada di dalam. Lagi ngambek. Marah gara-gara Kakek membuka kandang kelinci piaraannya. Kelincinya lepas dan lari ke jalan raya.” Kakek menarik napas pendek.
            “Kakek berusaha menangkapnya. Tapi sebuah sepeda motor telah menabrak kelinci kesayangan cucu Kakek.” Kakek memandang ke tengah laut. Sepasang burung cemara  terbang rendah di dekat kapal. “Padahal, Kakek hanya ingin memasangkan kalung ini ke kelinci itu sebagai kenang-kenangan karena Kakek mau pulang ke Solo.”  
            Kakek memberikan foto juga kalung dengan bandul  kelinci putih yang terbuat dari rotan berbentuk kepang ke tangan Alifia.
            “Namanya Zahra,” kata Kakek ketika Alifia memandangi foto seorang anak perempuan seumurannya. “Ayah Zahra sudah membelikan kelinci yang baru untuknya.”
            “Tapi cucu Kakek masih ngambek, ya?” tebak Alifia.
            Kakek mengangguk. “Iya. Sepanjang perjalanan dari rumah, Zahra yang duduk di kursi belakang diam saja.” Kakek mengusap wajahnya yang dingin terkena angin laut. “Kakek jadi tidak bisa memberikan kalung ini ke Zahra.”
            “Berikan saja, Kek. Siapa tahu itu akan mencairkan suasana antara Kakek dan Zahra,” ucap Alifia.
            “Kakek juga berpikir begitu. Kakek akan memberikan kalung kelinci ini kalau sudah ada di atas kapal Ferry.” Kakek kembali mengusap wajahnya. Wajah Kakek terlihat pucat sekarang. “Tapi Kakek tetap tidak bisa. Sepertinya sudah terlambat. Kamu tolong Kakek, ya?”
            Belum sempat Alifia menjawab permintaan Kakek, Bapak telah berteriak memanggil. “Alifia!  Kapal sudah mendekati pelabuhan Merak. Ayo!” Teriak Bapak.
            Alifia mengangguk. “Kek, ayo kita ke da...” Kalimat Alifia berhenti. “Ke mana Kakek?” Alifia mencari-cari, Kakek Zahra sudah tidak ada di sebelahnya.  Alifia kebingungan, tangannya masih memegang kalung milik Kakek untuk Zahra.
                                                               ***
            Alifia baru saja sampai di tempat Bapak menunggunya waktu sebuah tangis dan jeritan terdengar.
            “Kakek...! Kakek...! Bangun Kek!” teriak suara itu diantara tangisannya. “Jangan tinggalin Zahra, Kek!”
            “Zahra...?” Alifia bergumam sendiri.
            “Ada apa, Pak?” Bapak bertanya pada orang yang lewat di dekat mereka.
            “Itu, ada seorang Kakek yang meninggal. Katanya Kakek itu langsung tertidur pulas sekali begitu naik ke atas kapal Ferry. Tapi waktu dibangunkan, Kakek itu tidak bergerak sama sekali.”
            “Kakek...?” Alifia penasaran apa tangis yang didengarnya itu benar suara Zahra yang tadi Kakek perkenalkan lewat fotonya. “Kita ke sana yuk, Pak.” Ajak Alifia. Bapak belum mengiyakan, tapi Alifia sudah berjalan mendahui. Berusaha masuk di tengah kerumunan orang yang menonton.  
“Kata dokter itu, sudah meninggal dari satu setengah jam yang lalu. Kasihan sekali, tidak ketahuan karena sepertinya sedang tertidur,” kata  seorang Ibu di dekat telinga Alifia saat menerobos ke depan.
            “Kakek...?” Alifia berdiri kaku. Alifia mendadak kedinginan. Siapa yang tadi berbincang-bincang dengannya sambil memandangi buih di laut di sekitar kapal, kalau benar Kakek langsung tertidur sejak pertama naik ke atas kapal Ferry ini.
            “Kamu... kenal kakekku?” Zahra menyentuh pundak Alifia.
            Alifia menganggung pendek. Dia mengambil kalung yang ada di sakunya dan menyerahkan kalung itu ke tangan Zahra. “Dari Kakek,” katanya pelan. “Kakek memintaku untuk memberikan ini padamu. Untuk dipasangkan pada kelinci barumu.”
            “Kalung?” Zahra bingung. “Kapan?”
            “Kakek juga meminta maaf telah menyebabkan kelinci kesayanganmu mati. Tadinya Kakek cuma ingin memasangkan kalung itu untuk kelincimu.”
       Zahra menangis lagi. Memeluk Ibunya dengan erat.
            Alifia segera pergi dari sana dan mendekati Bapaknya. “Apa Bapak tadi melihatku sedang berbicara dengan seorang Kakek?” tanyanya penasaran.  
Bapak menggeleng sambil berjalan. Alifia mengikuti langkah kaki Bapak yang panjang. Sebelum menuruni tangga penyeberangan Alifia menengok sebentar. Di sana ada Kakek sedang melambai padanya. Alifia ingin tersenyum dan membalas lambaian Kakek tapi dia terlalu takut dan segera memeluk Bapak.
*** --- **


  

No comments:

Post a Comment