Monday, 13 April 2015

Opini - Harian Kedaulatan Rakyat




Pendaftaran murid sekolah dasar (swasta) sudah dimulai sejak Februari - Maret, jauh sebelum tahun ajaran baru dimulai. Pendaftaran siswa baru ini kemudian diikuti oleh tes masuk yang standarnya tergantung kebijakan dari masing-masing sekolah.
                Dari tiga sekolah dasar berbasis pendidikan Islam  di wilayah Sleman, penulis mencatat materi tes hampir seragam. Pertama tes akademik, calon murid SD (baca: murid TK) diuji kemampuan calistung (baca, tulis, hitung). Mereka duduk di ruangan layaknya peserta tes CPNS, menghadap kertas ujian. Tes tahap dua adalah kemandirian dan mengaji. Calon murid dilihat kemandiriannya dalam memakai baju sendiri. Untuk mengaji, calon murid diuji membaca surat pendek yang sudah dihafalnya.
                Pemandangan saat tes sangat beragam. Beberapa anak menangis, tidak mau berpisah dengan ibunya. Sebagian yang lain, berani duduk  di ruang  ujian tanpa orang tua. Beberapa peserta ujian dapat menyelesaikan soal dengan mudah. Sebagian  yang berani, bertanya pada guru penjaga jika ada soal yang belum dipahami. Namun ada juga sebagian siswa yang berwajah tegang, memukul-mukul kepala, tidak memahami soal karena belum bisa membaca dengan baik, di satu sisi tidak berani bertanya pada guru penjaga.
                Hasil tes seminggu berikutnya di salah satu SD tersebut, lima calon murid ada di deretan bawah dengan status cadangan.  

Sekolah Sebagai Taman
                Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan dalam salah satu pidato beliau mengatakan, sistem pendidikan di Indonesia hendaknya kembali pada ajaran bapak pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara. Beberapa inti dari makna pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah: Anak memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas; masing-masing anak berbeda bakat dan keadaan hidupnya, sehingga sebaiknya tidak dilakukan penyeragaman; anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, dan tidak mungkin pendidik “mengubah padi menjadi jagung”; sekolah harus berfungsi sebagai TAMAN, tempat belajar yang menyenangkan.
                Apabila dikaitan dengan tes masuk SD, rasanya sulit sebuah sekolah menjelma menjadi taman yang menyenangkan jika sebelum memasuki gerbang, anak sudah melalui tahap yang menegangkan. Belum lagi bila nantinya ada calon murid yang tidak diterima karena kemampuan akademik di bawah rata-rata. Artinya mereka tidak mendapat kesempatan yang sama untuk masuk taman yang menyenangkan. Padahal semua anak memiliki potensi dan hanya pendidik yang baik yang mampu memunculkan potensi dalam diri anak.


Antara Teori dan Kenyataan
                Standar pendidikan AUD-TK berdasarkan SK Mendiknas Nomor 58 Tahun 2009 (yang masih menjadi acuan sampai saat ini), tidak menganjurkan materi calistung sampai tingkat terampil.  Materi calistung yang disarankan adalah pengenalan angka dan huruf sampai si anak dapat menulis namanya sendiri.  Kenyataannya, materi calistung diberikan secara intensif melalui les tambahan di sekolah. Sebagian orang tua  menambah jam pelajaran calistung untuk anaknya dengan les pada guru privat atau mengajari sendiri.  Semua karena anak yang  pandai calistung punya kesempatan lulus lebih besar saat mengikuti tes masuk SD.
                Pembelajaran calistung tingkat terampil, pemberian les tambahan dan tes seleksi masuk SD adalah tiga hal yang tidak selaras dengan kurikulum pendidikan PAUD TK. Sekolah PAUD TK yang baik adalah yang memberikan kesempatan bermain pada anak. Beban akademik  yang terlalu berat untuk usianya dapat menyebabkan tekanan mental.
Tes Masuk SD
                Tes masuk SD sebaiknya dilakukan dengan tujuan mengetahui  kemampuan belajar dari calon murid, sehingga dapat direncanakan tujuan belajar dari masing-masing murid sesuai dengan tingkat kecerdasannya.
                Lalu bagaimana dengan hak SD swasta untuk mendapatkan murid terbaik agar predikat sebagai sekolah favorit tetap terjaga? Mungkin saatnya mengubah cara berpikir. Sekolah yang baik, bukanlah sekolah yang mengumpulkan anak-anak cerdas, kemudian dengan bangga menyebut dirinya sekolah unggulan. Sekolah yang hebat, adalah sekolah yang sistem belajar serta pendidiknya mampu memunculkan potensi dari anak didik, baik dari anak yang cerdas maupun yang prestasi akademiknya biasa saja. Sekolah yang baik adalah sekolah yang  menyenangkan, sehingga murid bersemangat berangkat setiap hari ke sekolah, dan enggan pulang karena belajar di sekolah sangat mengasyikkan. (

No comments:

Post a Comment