Sunday, 8 March 2015

Keusilan Rere - Padang Ekspress





“Kita tidak bisa memanjat pohon Mangga sampai minggu depan,” kata Rere kesal. “Ibuku melarang kita melintasi kebun tanaman obat  yang mendadak ditata dengan rapi.”
            “Mereka tidak mengijinkan kita naik ke pohon Mangga karena takut tanaman obatnya akan terinjak-injak  kaki kita,” Niko mencibir tak senang juga.
            “Jam segini biasanya Rani lewat. Aku jadi tidak bisa membidik kuncir ekor kudanya dengan ketapel ini,” sungut Rere.
            “Iya. Aku suka membidik betis mang Ujang si tukang bakso,” sambung Randi. Mereka bertiga memang terkenal usil dan jahil. Tapi untungnya belum pernah ada yang terluka dengan kenakalan mereka.
“Ayo kita ke sungai  saja,” ajak Rere. 
“Kalian bertiga pergi ke tempat foto copy ya!”  Perintah ibu Tini ketika  mereka hendak meninggalkan teras rumah Rere. “Nama-nama tanaman obat di kertas ini harus dilaminating dan dibuat pembolongnya untuk memasukkan tali.”
            “Sekarang Bu?” tanya Rere.
            “Iya. Daripada kalian duduk-duduk saja di sana dari tadi.”
            Rere, Niko dan Randi tidak punya pilihan lain. Padahal dari tadi mereka duduk-duduk diteras karena tidak diijinkan memanjat pohon mangga yang menjadi markas utama mereka. Sekarang, keasyikan bermain di sungai pun melayang sudah.                                                                 
                                                                        ***
“Aduh...!”
            Rere teriak kesakitan. Tangannya terkena arang yang masih merah saat membalik ikan yang sedang ia bakar bersama Niko dan Randi. Arangnya besar, sebesar telapak tangan. Perih dan panas sekali rasanya.
            Niko menoleh kaget. “Harus segera diobati, Re. Tanganmu kena luka bakar. Ibumu pasti tahu obatnya. Di rumahmu kan banyak tanaman obatnya.”
            Rere mengangguk. Mereka sepakat meninggalkan ikan bakar dari hasil memancing di sungai tadi. Tangannya yang terkena luka bakar harus segera diobati sebelum lukanya melepuh. Rere berjalan sambil meringis, merasakan panas dan perih di tangannya yang terkena arang panas.
                                                                  ***
“Daun Dewa... Kecubung...,” Ibu Tini sedang menggantungkan papan nama untuk masing-masing tanaman obat. “Pohon Patah Tulang... Pohon Pulasari... Daun Seledri... Lidah Bu...”
Bu Tini tidak menyelesaikan kalimatnya. Dicarinya pot tanaman Lidah Buaya. Seingatnya tiga pot kecil tanaman  itu kemarin diletakkan dekat pohon Landep. Bu Tini sibuk mencari-cari. Beberapa jam lagi rombongan tim penilai akan datang!
“Masih ada waktu untuk meminjam pot ke rumah warga,” pikir Bu Tini.
Bu Tini baru saja sampai pagar rumah waktu Rere dan teman-temannya berlari menghampirinya. Wajah Rere memerah menahan sakit. Dia segera menunjukkan tangan yang sakit ke Ibunya.
“Rere, tanganmu terluka bakar!” pekik Ibu Tini. “Terkena apa, Re?”
“Kena arang panas sewaktu hendak membalik ikan yang kami panggang, Bu Tini,” Randi yang menjawab. Sementara Rere makin meringis kesakitan.
“Harus dibalurkan dengan daging Lidah Buaya yang sudah dihaluskan, biar kulitmu tidak melepuh,”  ucap Bu Tini. “Tapi...,” Bu Tini semakin panik mengingat pot tanaman Lidah Buayanya sudah hilang.
            “Saya ambilkan ya, Bu,” ucap Niko hendak mengambilkan tanaman itu.
            “Pot tanaman Lidah Buayanya hilang. Kamu harus ke rumah ibunya Rani dan meminta Lidah Buaya milik Ibu Rani. Cepat! Kalau menunggu semakin lama, daging Lidah Buaya itu tidak bermanfaat lagi di kulit yang terbakar.”
            Niko hendak berlari tapi Rere melarangnyanya. “Aku..., aku yang mengambil pot-pot Lidah Buaya itu, Bu!” serunya dengan takut. Tidak berani membalas tatapan  tidak suka Ibu padanya. “Aku menyimpannya di gudang,” katanya lagi sambil menunduk.
            Niko segera menuju gudang dan mengambil pot-pot itu.  Ibu langsung memotong Lidah Buaya yang besar dan banyak dagingnya, Lalu ditumbuknya hingga sedikit halus. Setelah itu dibalutkan ke tangan Rere yang terkena arang panas tadi.
            “Maafkan Rere, Bu. Rere udah ngumpetin tanaman Lidah Buayanya.” Ucap Rere sambil menunduk. “Habis sih, Ibu, melarang aku dan teman-teman memanjat pohon mangga.”
            Ibu tersenyum sambil memeluk Rere. “Kalian boleh kok naik ke pohon mangga itu. Tapi nanti ya, kalau tim penyeleksi rumah toga sudah menilai tanaman obat yang ada di sana.”
“Asyik...” Rere dan teman-temannya berteriak senang dan semangat

No comments:

Post a Comment