Thursday, 12 March 2015

Sepatu Bolong Reno - Majalah Bobo



Olive dan dua temannya tertawa. Ibu jari kaki Reno terlihat keluar dari ujung sepatunya yang bolong. Bolongnya tepat di jempol kaki kanannya.
Reno tidak memakai kaos kaki. Kulit di sekitar ibu jarinya terlihat kebiruan, karena selalu menendang bola dengan sepatunya yang bolong.
"Gimana bisa menangin pertandingan kalau pakai sepatu begitu," ledek Irna.
Reno cuma tersenyum masam mendengarnya.
"Kenapa tidak pakai kaos kaki?" Irwan berbisik setelah mereka melewati Olive dan teman-temannya.
"Sudah kesiangan. Ada di dalam tas. Nanti saja dipakai pas latihan," sahut Reno.
"Bolongnya makin lebar," irwan melirik ke bawah.
Reno tidak peduli. Ibu jari kakinya ia putar-putar.
"Sepatuku sudah sedikit sesak. Aku tidak bisa bergerak bebas," bisik Reno ke telinga Irwan. Matanya mengikuti dua kupu-kupu yang terbang di sekitar tanaman hias di samping lapangan futsal.
Kupu-kupu itu seperti adik dan kakak. Atau seperti ibu dan anak. Seperti ia dan bunda. Seperti ia dan sepatu futsal pemberian Bunda.
Reno   melirik   sepatu   lusuhnya.    Semakin   terlihat   kecil  sekarang.   Bunda
memberikannya sebagai hadiah karena berhasil memasukkan gol di hari pertama pertandingan fulsal dua tahun yang lalu.
"Jangan dipakai lagi," kata Irwan, membawa pergi bola di depannya.
**
Sepatu futsal dari bunda sudah usang. Warnanya tidak lagi secerah taman bunga milik bunda. Setiap habis dicuci pun bau keringat kaki Reno tidak bisa hilang.
Tadi pagi Olive dan teman-temannya mengolok-olok sepatu lusuh Reno lagi. Olive mengajak teman-temannya untuk menutup hidung sewaktu Reno lewat.
Reno duduk bersimpuh di depan sepatunya. Sepatu itu selalu mengingatkannya dengan bunda. Setahun lalu, waktu tim futsal Reno berhasil memenangkan lomba, Bunda mengajaknya membeli sepatu fulsal  baru. Karena senang, Reno tidak bisa diam duduk di belakang bunda. Reno terus bercerita tentang pertandingan dan keinginannya untuk segera memamerkan sepatu barunya.
Perhatian bunda terbagi antara Reno dan jalan raya. Motor bunda jadi hilang keseimbangan. Bunda jatuh ke dalam selokan yang kering dan Reno jatuh di jalan aspal yang panas. Bunda menahan sakit. Kaki bunda keseleo. Bunda duduk dan menanyakan bagaimana keadaan Reno.
"Sepatunya baruku bolong, Bunda. Aku tidak bisa memamerkan ini ke teman-teman,"
Bunda tersenyum lega.
"Nanti kalau Bunda sudah punya uang, kita beli yang baru lagi, ya. Untuk sementara pakai sepatu itu dulu."
"Tapi bunda...,"
"Sepatu lama juga masih bisa dipakai...,"
Reno diam. Tidak berani membantah Bunda.
"Apa larimu akan lambat dengan sepatu yang bolong?"
Reno menggeleng. "Aku memiliki kaki seperti gurita. Bisa melesat cepat seperti hewan itu biar dengan dua kaki," kata Reno bersemangat. "Akan aku buat gol-gol mengagumkan dengan sepatu ini."
Bunda tersenyum. Membelai rambut Reno. Nyatanya, sampai hari ini Reno tidak mau mengganti sepatu futsalnya. Biarpun ia selalu diejek Olive dan teman-temannya. Padahal Bunda sudah membelikan yang baru lagi.
Sepatu futsal bolong itu sudah menjadi penyemangat. Bunda bilang, kelincahan kaki Reno lebih penting dari pada sepatunya. Bunda bilang, kaki Reno kuat dan lentur ketika berlari mengejar bola, Kaki Reno memang seperti kaki-kaki gurita.
Begitu kata Bunda.

1 comment:

  1. Boleh gk saya memasukkan cerita ntah puisi bobo

    ReplyDelete