Thursday, 19 February 2015

Belajar Sabar - Padang Ekspress


Baik Di sekolah atau pun di rumah, Doni terkenal sebagai anak yang tidak sabaran. Di sekolah, kalau sedang berbaris pagi untuk masuk ke dalam kelas, sambil pemeriksaan kuku, Doni tidak suka dengan antrian barisannya. Ia akan belok ke samping dan berada pada barisan depan, sehingga dia masuk lebih dulu ke dalam kelas.
            Seperti pagi ini, Doni sedang sibuk menggedur-gedur pintu kamar mandi sambil menenteng handuk. Doni ingin mandi. Padahal Kak Maya baru saja masuk kamar mandi.
            “Ibu sudah bilang, kalau ingin lebih dulu masuk ke kamar mandi, kamu harus bangun lebih pagi,” ucap Ibu yang merasa terganggu dengan suara berisik Doni.
            Doni terdiam. Ia tahu kesiangan. Makanya ia tidak sabar untuk segera mandi. Tapi, Uh, Kak Maya lama sekali, sungut Doni. Begitu Ibu sudah ke teras depan mengantarkan kopi untuk Ayah, Doni kembali menggedur-gedur pintu kamar mandi.
            Kak Maya keluar dengan kesal. Ia merasa terburu-buru mandinya karena diganggu oleh Doni.
            “Bu, Doni harus diajarkan untuk bersabar,” kata Kak Maya menghampiri Ibu di meja makan.
            Ibu yang sedang mengoles selai kacang ke roti terdiam.
            “Sifat tidak sabarnya itu lama-lama makin mengganggu, bu,”lanjut Kak Maya.
            Ibu berpikir. Harus meminta seseorang untuk mengajarkan tentang kesabaran kepada Doni. Tapi siapa, ya? Ah, tiba-tiba Ibu mendapat ide. Ibu segera berjalan ke arah telepon. Menunggu beberapa menit, Ibu sudah bicara dengan seseorang di telepon.
            “Kalau begitu, nanti kami jemput di stasiun, ya,” kata Ibu. “Jangan lupa dibawa peralatannya.”
            “Ibu bicara dengan siapa?” tanya Kak Maya setelah Ibu kembali ke meja makan.
            “Kakek,” jawab Ibu.
Doni sudah berpakaian rapi dan sedang menghabiskan susunya. Tidak lama terdengar suara Doni  memanggil Ayah dan Kak Maya dan mengajak untuk berangkat sekarang juga. Doni ingin cepat-cepat sampai di sekolah.
                                                                      ***
Doni melihat Kakek sedang menggiling sesuatu.
“Tempe itu untuk umpan mancing, Kek?” tanyanya pada Kakek.
Kakek menganggguk.
“Ikannya mau memakan itu, Kek?  Bukannya Ikan maunya sama cacing ya, Kek?”
“Pasti mau dong. Umpan buatan Kakek ini pasti akan di serbu oleh ikan-ikan itu. Tapi Kakek juga membawa cacing, kok,” jelas Kakek. “Besok kan Minggu. Pagi-pagi sekali kita berangkat ke tempat pemancingan, ya?”
“Ki-ta?” Doni tergagap. Doni tidak suka mancing! Jerit Doni dalam hati. “Kan, biasanya, kalau Kakek sedang menginap di sini, mancingnya bersama Ayah.”
“Ayah besok ada urusan,” Ibu berdiri di belakang Doni. “Kamu besok temani Kakek, ya.”
Doni mengangguk pelan. Tidak bisa menolak.
                                                                    ***
Doni berdiri dari duduknya. Berjalan mondar-mandir di belakang Kakek. Entah sudah berapa kali Doni seperti itu. Duduk sebentar, berdiri, lalu berjalan mondar-mandir. Doni tidak sabar karena belum ada satu ekor ikan pun yang memakan umpan cacing yang mereka pasang di mata pancingnya.
“Kita ganti pake umpan tempe yang Kakek buat, ya,” pinta Doni.
Tanpa bicara apa-apa, Kakek segera mengganti umpan mereka,
“Di sini tidak ada ikannya, Kek. Kita pindah, yuk.” Doni menunjuk tempat di dekat seorang Bapak yang baru datang tapi pancingnya sudah mendapat seekor ikan.
“Ikan di sini lebih banyak dari ikan di sana,” kata Kakek akhirnya.
“Tapi, Kek...”
“beberapa kali tali pancing Kakek seperti bergerak. Tapi ikan itu jadi takut dan pergi karena kamu berisik dan tidak bisa diam.” Tegas Kakek.
“Jadi?”
Kakek menyuruh Doni duduk. Dan memegangkan alat pancing ke tangan Doni yang tadi tertancap di tanah.  “Pegang ini dan diam saja.” Perintah Kakek.
Doni menurut. Dia ingin sekali bisa mendapat Ikan yang nanti bisa ia pamerkan pada Kak Maya dan Ibu. Sepuluh menit sudah Doni duduk. Tapi ikan sepertinya tidak mau mendekati umpan milik Doni. Doni tidak sabar duduk diam seperti itu. Ia sudah ingin berdiri.
“Sssst...,” Kata Kakek. Tangan Kakek menunjuk ke tengah empang pemancingan itu.
Mau tidak mau, Doni akhirnya menurut.
Tidak lama kemudian, Doni merasa kailnya bergerak dan seperti ada yang menarik-narik. Doni berteriak. Kakek yang melihatnya segera membantu Doni memutar alat pancingnya. 
Seekor ikan gabus yang lumayan besar. Doni senang melihatnya.
 Kakek melepaskan ikan dan menaruhnya di dalam ember. “Apa Doni ingin mendapat ikan lagi?” tanya Kakek menggoda Doni.
Doni mengangguk. Kakek memasang umpan yang baru. Lalu melemparnya ke tengah Empang pemancingan. Gagang alat pancingnya ia berikan ke Doni.
“Doni tahu kan harus bersikap bagaimana?” tanya Kakek.
Doni mengangguk. Dia duduk di sebelah Kakek. Kali ini lebih tenang dan tidak berisik. “Harus sabar, ya, Kek,” kata Doni akhirnya.
Kakek tersenyum melihat Doni. Sepertinya, ide Ibu untuk membuat Doni sedikit lebih sabar, berhasil, ya.

No comments:

Post a Comment